Try to find the Light

Januari 18, 2006

Artikel : SUARA EMAS DARI ETHIOPIA

Diarsipkan di bawah: Artikel, Kisah Islami — fisan @ 8:08 pm

Suatu malam, jauh sepeninggal Rasulullah, Bilal bin Rabbah, salah seorang sahabat utama, bermimpi dalam tidurnya. Dalam mimpinya itu, Bilal bertemu dengan Rasulullah.”Bilal, sudah lama kita berpisah, aku rindu sekali kepadamu,” demikian Rasulullah berkata dalam mimpi Bilal.”Ya, Rasulullah, aku pun sudah teramat rindu ingin bertemu,” kata Bilal masih dalam mimpi-Nya. Setelah itu, mimpi tersebut berakhir begitu saja. Dan Bilal bangun dari tidurnya dengan hati yang gulana. Ia dirundung rindu.Keesokan harinya, ia menceritakan mimpi tersebut pada salah seorang sahabat lainnya. Seperti udara, kisah mimpi Bilal segera memenuhi ruangan kosong di hampir seluruh penjuru kota Madinah. Hari itu, Madinah benar-benar terbungkus rasa haru. Kenangan semasa Rasulullah masih bersama mereka kembali hadir, seakan baru kemarin saja Rasulullah tiada. Satu persatu dari mereka sibuk sendiri dengan kenangannya bersama manusia mulia itu.

Menjelang senja, penduduk Madinah seolah bersepakat meminta Bilal mengumandangkan adzan Maghrib, padahal Bilal sudah cukup lama tidak menjadi muadzin sejak Rasulullah tiada. Seolah, penduduk Madinah ingin menggenapkan kenangannya hari itu dengan mendengar adzan yang dikumandangkan Bilal. Akhirnya, setelah diminta dengan sedikit memaksa, Bilal pun menerima dan bersedia menjadi muadzin kali itu. Senjapun datang mengantar malam, dan Bilal mengumandangkan adzan. Tatkala, suara Bilal terdengar, seketika, Madinah seolah tercekat oleh berjuta memori. Tak terasa hampir semua penduduk Madinah meneteskan air mata. “Marhaban ya Rasulullah,” bisik salah seorang dari mereka.

Sebenarnya, ada sebuah kisah yang membuat Bilal menolak untuk mengumandangkan adzan setelah Rasulullah wafat. Waktu itu, beberapa saat setelah malaikat maut menjemput kekasih Allah, Muhammad, Bilal mengumandangkan adzan. Jenazah Rasulullah, belum dimakamkan. Satu persatu kalimat adzan dikumandangkan sampai pada kalimat, “Asyhadu anna Muhammadarrasulullah.” Tangis penduduk Madinah yang mengantar jenazah Rasulullah pecah. Seperti suara guntur yang hendak membelah langit Madinah.

Kemudian setelah, Rasulullah telah dimakamkan, Abu Bakar meminta Bilal untuk adzan. “Adzanlah wahai Bilal,” perintah AbuBakar. Dan Bilal menjawab perintah itu, “Jika engkau dulu membebaskan demi kepentinganmu, maka aku akan mengumandangkan adzan. Tapi jika demi Allah kau dulu membebaskan aku, maka biarkan aku menentukan pilihanku”. “Hanya demi Allah aku membebaskanmu Bilal,” kata Abu Bakar. “Maka biarkan aku memilih pilihanku,” pinta Bilal. “Sungguh, aku tak ingin adzan untuk seorang pun sepeninggal Rasulullah,” lanjut Bilal.”Kalau demikian, terserah apa maumu,” jawab Abu Bakar.

Bilal bin Rabah, terakhir melaksanakan tugasnya sebagai muadzin saat Umar bin Khattab menjabat sebagai khalifah. Saat itu, Bilal sudah bermukim di Syiria dan Umar mengunjunginya. Saat itu, waktu shalat telah tiba dan Umar meminta Bilal untuk mengumandangkan adzan sebagai tanda panggilan shalat. Bilal pun naik ke atas menara dan bergemalah suaranya.

Semua sahabat Rasulullah, yang ada di sana menangis tak terkecuali. Dan di antara mereka, tangis yang paling kencang dan keras adalah tangis Umar bin Khattab. Dan itu, menjadi adzan terakhir yang dikumandangan Bilal, hatinya tak kuasa menahan kenangan manis bersama manusia tercinta, nabi akhir zaman.

————————————————————————————————

(Diambil dari milis An-Nahl, Samsung Indonesia)

Puisi : The Beauty of Woman

Diarsipkan di bawah: Poem, Puisi — fisan @ 7:25 pm

“Beauty of a Woman”

The beauty of a woman
Is not in the clothes she wears,
The figure that she carries,
Or the way she combs her hair.

The beauty of a woman
must be seen from in her eyes,
Because that is the doorway to her heart,
the place where love resides.

The beauty of a woman
is not in a facial mole,
But true beauty in a woman
Is reflected in her soul.

It is the caring that she lovingly gives,
the passion that she shows

And the beauty of a woman
With passing years-only grows!

Profil : Mo tau yang merekomendasikan “Cinta yang Terlambat”?

Diarsipkan di bawah: Profile — fisan @ 12:50 am

 

NIH DIA TEMANKU!

YUNI PURWANDARI
Putri Muslimah Condet Sejati yang cantik…

Buku : Cinta Yang Terlambat

Diarsipkan di bawah: Buku Islami, Review — fisan @ 12:08 am

 

Baru mau mulai baca buku “Cinta yang Terlambat” terjemahan dari novel Pakistan berjudul asli “Hijaab Waali” karangan Dr. Ikram Abidi terbitan Pustaka Hidayah.

Kalo baca ringkasan ceritanya sih sepertinya menarik, tertarik buat baca nih buku di rekomendasi teman, Yuni. Dia bilang sih bagus… dah cari lama nih buku, akhirnya dapat di Palasari, Bandung, nitip sama teman kantor yang tiap minggu pulang ke Bandung, mengunjungi istrinya.

ringkas cerita :
Aariz Ali adalah seorang pemuda Pakistan berusia 26 thn, tampan, kaya dan terdidik yang sedang jatuh cinta pada seorang gadis Pakistan yang telah lama tinggal di London, Komal.
Komal memang cantik, pintar, modern dan berasal dari keluarga pengusaha yang kaya pula. Sayangnya, Komal berasal dari mazhab yang berbeda. Hubungan mereka ditentang keras, terutama oleh ibu Aariz.
Untuk itu Sa’dia, ibunda aariz, memaksa anaknya menikah dengan gadis desa, Zeest. Pernikahan terlaksana, walaupun begitu Aariz tidak pernah menganggap Zeest sebagai istrinya. Hubungan Aariz dan Komal tetap berlanjut. Namun, karena peristiwa tertenu Komal cemburu meninggalkan Aarizdan tidak pernah kembali. Aariz menderita tekanan batin, padahal ia juga baru saja kehilangan kedua orang tuanya dalam suatu musibah. Tragis!
Karena stress Aariz masuk rumah sakit jiwa. Dua tahun direhabilitasi sampai sembuh total. Dan itu tidak lepas dari jasa seorang laki-laki yang amat dihormatinya, Paman Maulana.
Setelah sembuh, amenyadari bahwa gadis yang paling cocok dan didambakannya adalah zeest, gadis desa itu, yang dipilihkan ibunya untuknya. gadis tabah, suci dan siap memberikan cinta sepenuhnya kepada suaminya. Namun dimanakah Aariz harus mencarinya? Bukankah ia sendiri yang telah mengusirnya 2 tahun yang lalu?

Blog pada WordPress.com.