Try to find the Light

November 3, 2006

Profile : Malcolm X – Letter from Mecca; April 1964

Filed under: Artikel, Kisah Islami, Mujahid, Profile, Tokoh Islam — fisan @ 8:38 am

Never have I witnessed such sincere hospitality and overwhelming spirit of true brotherhood as is practiced by people of all colors and races here in this Ancient Holy Land, the home of Abraham, Muhammad and all the other Prophets of the Holy Scriptures. For the past week, I have been utterly speechless and spellbound by the graciousness I see displayed all around me by people of all colors.

I have been blessed to visit the Holy City of Mecca. I have made my seven circuits around the Ka’ba, led by a young Mutawaf named Muhammad. I drank water from the well of the Zam Zam. I ran seven times back and forth between the hills of Mt. Al-Safa and Al-Marwah. I have prayed in the ancient city of Mina, and I have prayed on Mt. Arafat.

There were tens of thousands of pilgrims, from all over the world. They were of all colors, from blue-eyed blonds to black-skinned Africans. But we were all participating in the same ritual, displaying a spirit of unity and brotherhood that my experiences in America had led me to believe never could exist between the white and non-white.

America needs to understand Islam, because this is the one religion that erases from its society the race problem. Throughout my travels in the Muslim world, I have met, talked to, and even eaten with people who in America would have been considered ‘white’–but the ‘white’ attitude was removed from their minds by the religion of Islam. I have never before seen sincere and true brotherhood practiced by all colors together, irrespective of their color.

You may be shocked by these words coming from me. But on this pilgrimage, what I have seen, and experienced, has forced me to re-arrange much of my thought-patterns previously held, and to toss aside some of my previous conclusions. This was not too difficult for me. Despite my firm convictions, I have always been a man who tries to face facts, and to accept the reality of life as new experience and new knowledge unfolds it. I have always kept an open mind, which is necessary to the flexibility that must go hand in hand with every form of intelligent search for truth.

During the past eleven days here in the Muslim world, I have eaten from the same plate, drunk from the same glass, and slept in the same bed (or on the same rug)–while praying to the same God–with fellow Muslims, whose eyes were the bluest of blue, whose hair was the blondest of blond, and whose skin was the whitest of white. And in the words and in the actions in the deeds of the ‘white’ Muslims, I felt the same sincerity that I felt among the black African Muslims of Nigeria, Sudan, and Ghana.

We were truly all the same (brothers)–because their belief in one God had removed the white from their minds, the white from their behavior, and the white from their attitude.

I could see from this, that perhaps if white Americans could accept the Oneness of God, then perhaps, too, they could accept in reality the Oneness of Man–and cease to measure, and hinder, and harm others in terms of their ‘differences’ in color.

With racism plaguing America like an incurable cancer, the so-called ‘Christian’ white American heart should be more receptive to a proven solution to such a destructive problem. Perhaps it could be in time to save America from imminent disaster–the same destruction brought upon Germany by racism that eventually destroyed the Germans themselves.

Each hour here in the Holy Land enables me to have greater spiritual insights into what is happening in America between black and white. The American Negro never can be blamed for his racial animosities–he is only reacting to four hundred years of the conscious racism of the American whites. But as racism leads America up the suicide path, I do believe, from the experiences that I have had with them, that the whites of the younger generation, in the colleges and universities, will see the handwriting on the walls and many of them will turn to the spiritual path of truth–the only way left to America to ward off the disaster that racism inevitably must lead to.

Never have I been so highly honored. Never have I been made to feel more humble and unworthy. Who would believe the blessings that have been heaped upon an American Negro? A few nights ago, a man who would be called in America a ‘white’ man, a United Nations diplomat, an ambassador, a companion of kings, gave me his hotel suite, his bed. … Never would I have even thought of dreaming that I would ever be a recipient of such honors–honors that in America would be bestowed upon a King–not a Negro.

All praise is due to Allah, the Lord of all the Worlds.

Sincerely,

El-Hajj Malik El-Shabazz
(Malcolm X)

Surat Malcolm X dari Kota Suci Mekkah Al-Mukaramah
Eramuslim; 4 Jan 2006 16:43 WIB

Rasa haru, persaudaraan, kemurahan hati dan tidak mementingkan diri
sendiri yang dirasakan Malcolm X di kota Mekkah saat melaksanakan ibadah haji, membuka mata hatinya tentang semangat Islam yang sebenarnya.

Dalam buku autobiografi yang ditulisnya bersama Alex Haley, Malcolm
menulis, "Karena pencerahan spiritual dimana saya mendapatkan rahmat
untuk mengalaminya setelah melaksanakan ibadah haji ke kota Mekkah, saya
tidak lagi membiasakan melempar dakwaan kepada ras manapun. Sekarang,
saya berjuang untuk hidup sebagai seorang Muslim Sunni sejati. Saya harus
mengulangi bahwa saya bukan seorang rasis dan bukan pula seorang yang
menganut prinsip rasisme. Saya nyatakan dengan ketulusan hati bahwa saya
tidak berharap apa-apa kecuali kebebasan, keadilan dan persamaan,
kehidupan, kemerdekaan serta kebahagiaan untuk semua orang,"

Dalam buku Autobiography of Malcolm X, Malcolm X atau nama Islamnya
Malik al-Shabazz mengungkapkan kesan-kesannya melaksanakan ibadah
haji di tanah suci dalam surat yang ditujukan ke asistennya di Harlem. Surat
itu ia kirim dari Mekkah pada bulan April 1964. Berikut isi suratnya:

Saya tidak pernah menyaksikan keramahtamahan yang begitu tulus dan
semangat kebersamaan yang begitu besar, seperti yang dilakukan oleh umat
manusia dari berbagai warna kulit dan ras di kota suci ini, rumah dari
Ibrahim, Muhammad dan nabi-nabi lainnya yang disebut dalam kita suci
Al-Quran. Dalam beberapa minggu yang saya lewati, saya benar-benar
kehilangan kata-kata dan terpesona dengan keagungan yang saya saksikan
di sekitar saya yang dilakukan oleh umat manusia dari berbagai bangsa.

Saya beruntung bisa berkunjung ke kota suci Mekkah; Saya sudah
melakukan tawaf keliling Ka'bah 7 putaran, dipimpin oleh seorang Mutawwaf
(pembimbing) muda bernama Muhammad; Saya minum air dari sumur air
Zamzam; Saya lari 7 kali bolak-balik dari bukit Safa ke bukit Marwa; Saya
berdoa di kota tua Mina dan Saya berdoa di pegungungan Arafah. Di sana
ada puluhan ribu jemaah haji dari seluruh dunia. Mereka berasal dari
berbagai warna kulit dari yang bermata biru, pirang sampai yang berkilit
hitam dari Afrika. Namun mereka semua melakukan ritual yang sama,
menunjukkan semangat persatuan dan persaudaraan yang dari pengalaman
saya di Amerika telah membuat saya percaya bahwa hal semacam ini tidak
akan pernah terjadi antara kulit putih dan non kulit putih. Amerika perlu
memahami Islam, karena Islam adalah agama yang menghapuskan masalah
rasa di kalangan pemeluknya.

Dari seluruh perjalanan yang pernah saya lakukan ke dunia Islam, saya
bertemu, bicara dan bahkan makan bersama dengan orang-orang yang di
Amerika akan dianggap sebagai orang kulit putih-namun sikap sebagai orang
kulit putih telah dihilangkan dari pikiran mereka oleh agama Islam.

Saya tidak pernah menyaksikan sebelumnya, ketulusan dan rasa
persaudaraan sejati yang dilakukan oleh orang-orang dari berbagai warna
kulit bersama-sama, mereka mengabaikan warna masing-masing. Kamu
mungkin akan sangat terkejut dengan kata-kata saya ini. Tapi dalam
pelaksanaan ibadah haji, apa yang saya lihat dan saya alami, memaksa saya
untuk menyusun kembali banyak dari pola pikir yang saya anut sebelumnya
dan membuang sejumlah kesimpulan yang buat di masa lalu. Ini tidak terlalu
sulit buat saya. Disamping pendirian saya yang kuat, saya selalu menjadi
orang yang berusaha menghadapi kenyataan dan menerima kenyataan hidup
sebagai pengalaman baru dan pengetahuan baru yang terbentang.

Saya selalu menjaga untuk tetap terbuka, yang merupakan hal pentinguntuk
bersikap fleksibel agar berjalan bersisian dengan setiap bentuk pencarian
untuk mendapatkan kebenaran.

Selama 7 hari yang saya lewati di sini, di negara Islam ini, saya makan
bersama dari piring yang sama, minum dari gelas yang sama dan tidur di
karpet yang sama-ketika berdoa pada Tuhan yang sama-dengan saudara-
saudara sesama Muslim, yang matanya lebih biru dari yang biru, yang
rambutnya lebih pirang dari yang piran dan kulitnya lebih putih dari yang
putih. Dan dalam perkataan dan perbuatan Muslim berkulit putih itu, saya
merasakan ketulusan yang sama seperti yang saya rasakan ketika berada di
antara Muslim berkulit hitam yang berasal dari Nigeria, Sudan dan Ghana.

Kami benar-benar menjadi satu saudara-karena keimanan mereka pada satu
tuhan telah menghapus pemikiran bahwa mereka orang kulit putih, baik dari
sikap maupun tingkah laku mereka. Apa yang saya lihat dari pengalaman ini,
bahwa mungkin jika orang kulit putih Amerika bisa menerima ke-Esa-an
Tuhan, maka mungkin mereka juga bisa menerima bahwa semua umat
manusia adalah sama-dan berhenti melakukan tindakan, menghalangi dan
membahayakan orang lain hanya karena 'perbedaan' warna kulit.

Dengan wabah rasisme di Amerika yang sudah seperi kanker yang tidak bisa
dicegah, kemudian apa yang disebut hati 'Orang Kristen' kulit putih
Amerikaselayaknya lebih bisa menerima sebuah solusi yang sudah terbukti
untuk mengatasi masalah-masalah destruktif itu. Mungkin ini sudah saatnya
melindung Amerika dari bencana yang makin dekat-kerusakan yang sama
yang dialami negara Jerman akibat rasisme yang pada akhirnya
menghancurkan bangsa Jerman sendiri. Setiap jam, di sini, di kota suci
membuat saya belajar untuk memiliki wawasan spiritual yang lebih besar
terhadap apa yang terjadi di AS antara orang kulit putih dan kulit hitam.

Orang Negro Amerika tidak bisa disalahkan atas rasa dendam rasial
mereka-mereka hanya bereaksi atas rasisme yang dilakukan warga kulit
putih Amerika secara sadar selama hampir empat ratus tahun. Tapi seiring
dengan rasisme yang mengarahkan Amerika ke jalan bunuh diri, saya tetap
yakin, di akademi-akademi dan universitas-universitas, akan terlihat
tulisan-tulisan tangan di dinding-dinding dan banyak di antara mereka yang
akan berubah ke jalan spiritual yang sebenarnya-satu-satunya jalan yang
menjadikan Amerika untuk terhindar dari bencana akibat tindakan rasisme
yang tidak bisa dihindari akan menimbulkan bencana itu.

Saya tidak pernah merasa sedemikian terhormat. Saya tidak pernah merasa
begitu rendah hati dan merasa tidak berharga. Siapa yang akan percaya akan
rahmat yang telah dilimpahkan pada seorang Negro Amerika? Beberapa
malam yang lalu, seorang laki-laki yang di Amerika akan disebut kulit putih,
seorang diplomat PBB, seorang duta besar, seorang penasehat raja,
memberikan ruangan suite hotelnya pada saya, tempat tidurnya. Tidak
pernah terlintas dalam pikiran saya, bahka bermimpi bahwa saya akan
menerima kehormatan semacam itu-kehormatan yang di Amerika akan
dipersembahkan hanya untuk seorang Raja, bukan seorang Negro.

Segala puji bagi Allah, seru sekalian alam.
Hormat Saya,
Al-Hajj, Malik al-Shabazz (Malcolm X)

(Sumber: IslamOnline)

3 Komentar »

  1. Thx. Bagus banget. Inspired! Menyadarkan saya untuk kembali dari bengkoknya jalan ke kelurusan yang hakikat. Gracias!!

    Komentar oleh johngozzy — Januari 10, 2007 @ 5:34 am

  2. amazing. keren. saya suka blog anda dan sudah saya add ke bookmark. gpp kan?

    Komentar oleh insanayu — April 4, 2007 @ 3:55 am

  3. Wonderful blog! I found it while surfing around on Yahoo
    News. Do you have any suggestions on how to get listed
    in Yahoo News? I’ve been trying for a while but I never seem to get there!
    Appreciate it

    Komentar oleh Remove Hyperpigmentation — Agustus 28, 2014 @ 3:41 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: