Try to find the Light

April 4, 2008

Pemerintah… oooooyyy… Denger gak yah?

Filed under: Artikel, Blogroll, Islam, Kegiatan Islami, Kisah Islami — fisan @ 3:48 am

Pagi ini dapat email isinya benar-benar menyentuh hati… masih adakah pemerintah untuk kaum miskin?

 ——————————————————————————————

Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya.

Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang
seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia  limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya.”

Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan, katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah.”Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya..” Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.

“Maaf dik saya menangis, saya benar-benar bingung mau makan apa kami kelak.., ” ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata. Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangi beban hidupnya.

Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. “Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini .”

Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah. Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. “Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil,
bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja.” Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.


“Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati.. mungkin  kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah…”
Pak Jumari menerawang.

Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati  menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk.

Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah  dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut ‘anggaran negara’ digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi  yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. Mumpung ada anggaran negara maka  sikat sajalah!

Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan diri,  keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya
pemerintahan kita ini!

Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari dikasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.


Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis.Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkadal ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.


Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. “Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta.” Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. Alhamdulillah, saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.


Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.


Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium  keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah…


Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat… Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal…


Amien Ya Allah.

Wassalam, ..

 

6 Komentar »

  1. Ya Allah kami tidak memohon untuk dimudahkan atas ujian yang KAU berikan, kami hanya minta ENGKAU kuatkan kami dalam menyelesaikan ujian ini…, sehingga kami dapat lulus dengan memuaskan….

    PS :koran “Berani”… (Berita Anak Indonesia) 3 april 2008, sebuah sumur mengeluarkan minyak tanah… Subhanallah… begitulah kalau DIA sudah berkehendak… biarpun pemerintah “menghalang-halangi…” warganya mendapat minyak tanah… Allah ridho memberi tanpa.. persyaratan dan kartu miskin…
    Alhamdulillah ya Allah

    Komentar oleh yanti — April 4, 2008 @ 1:32 pm

  2. Program mengentaskan kemiskinan yang selama ini digembor-gemborkan pemerintah dan dana untuk simiskin masih saja menjadi komoditas utama para koruptor khususnya pejabat daerah. Kaum miskin tetap miskin dan terus termarginalkan, kaum miskin hanya dikunjung dan disanjung ketika menjelang Pilkada dan Pemilu. Semoga Allah SWT membukakan pintu para pemimpin di negeri ini. Amin.

    Komentar oleh Togar Lubis — April 5, 2008 @ 6:21 am

  3. kenaikan BBM dan pelanggengan AHMADIYAH yg jelas2 melecehkan umat Islam, rakyat terbesar di Indonesia, benar2 telah mengunci hati dan rasa ponggawa negeri ini. SBY-KALA malah asyik dengan mainan disintegrasi-nya, yg menambah daftar panjang kegagalan mrk mengawal republik ini ke gerbang kemuliaan. mereka lupa bhw FPI itu organisasi yg mampu merusak permainan maksiat, judi, miras, narkoba. bahkan mereka lupa, FPI lah yg telah merusak intervensi asing (AMRIK) di ambon dan poso, shg muslim Ambon dan Poso msh tersisa.
    dengan BLT, rakyat dihinakan, dg disintegrasi, umat Islam versus umat Islam, rasa kasih sayang dicerabut dr akar-akarnya. spt belanda dg devide et impera-nya.
    atau… siapakah SBY-KALA sebenarnya? shg mrk seolah tidak punya hati nurani.

    Komentar oleh wirantoakbarsiswono — Juni 4, 2008 @ 1:21 am

  4. mas, artikelnya saya copas masukkan ke milis
    mohon maaf sebelumnya, copas tanpa permisi
    bila kurang berkenan bisa hubungi saya di blog😀

    Komentar oleh andyan — April 6, 2009 @ 7:29 am

  5. mas,saya mohon komentator di atas (andyan)untuk dihukum,karena telah mencopas dimilis tanpa sepengetahuan Anda, permisi dan terimakasih😀

    Komentar oleh ochin — April 6, 2009 @ 10:41 pm

  6. tetap saja pak jumari adalah pak jumari, anda tetap anda dan pejabat tetap pejabat. iya kan? tulisan ini toh tidak mengubah apapun. dan maaf kalau saya katakan tulisan ini hanya menjadi onani rasa kemanusiaan anda atau onani kebeagamaan anda. hanya orang seperti pak jumari di tulisan anda itu yang mengerti perasaan pak jumari.
    orang miskin seperti pak jumari memang hanya dibutuhkan untuk tema seminar kemiskinan, untuk tema kampanye dan juga untuk tema tulisan. orang miskin ada memang untuk kepentingan orang kaya kan? agar orang kaya bisa mengasihaninya, sedikit menyantuninya atau bertambah kaya dengan mengadakan seminar tentangnya. bukankan itu keadilan tuhan yang dikatakan para kyai: orang miskin adalah pasangan orang kaya, agar dunia ini seimbang? iya kan… menyedihkan!!!

    Komentar oleh maspem — Juni 17, 2009 @ 5:54 am


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: