Try to find the Light

April 3, 2008

Memoar ZA Maulany; Jenderal Zuhud itu pun telah tiada

—– Original Message —–

From: Indra Kusuma

To: Indra Kusuma

Sent: Wednesday, April 06, 2005 1:17 AM

Subject: Jendral zuhud itu telah tiada…

20.25 WIB semalam, selepas sholat isya berjamaah dengan rekan-rekan dari perkantoran di musholla yang berlokasi di basement gedung Cyber, segera kuraih hp yang sengaja ditinggal di meja. Ada 2 pesan, salah satunya dari ibu Ida Prabowo (salah seorang pemilik TV Ar Rahmaan) yang mengabarkan bahwa pak ZA Maulani selasa sore telah meninggal…

Seakan gak percaya, segera kubuka detik.com dan cari info tentang berita itu…ternyata benar…Innaa lillaahi wa innaa ilayhi raaji`uuna….lalu kabar berita duka yang sama berdatangan dari ustadzah Irena Handono, rekan-rekan pengurus pengajian perkantoran di gedung ini maupun yang lainnya…

Teringat tepat setahun yang lalu ketika kami mau adakan ta’lim dzuhur dengan mengangkat tema seputar isu terorisme. Sengaja kami angkat karena sudah jenuh dengan propaganda hitam yang disebarkan oleh musuh-musuh Allah. Diskusi dengan rekan-rekan pengurus lainnya dan disepakati kami mengundang Letjend. TNI (Purn) ZA Maulani dengan membedah buku beliau “Fitnah itu Akhirnya Terungkap” (terjemahan dari Stranger than Fiction, The Independent Investigation of 9-11 and The War Against Terrorism, karya Prof. DR. Albert D Pastore PhD). Tapi untuk mendapatkan buku itu tidaklah mudah, karena sudah tidak ada lagi di toko-toko buku bahkan di penerbitnya sekalipun. Karena sudah dibeli semua cetakan buku itu oleh salah seorang bapak yang peduli akan keberadaan buku ini. Menurut penerbit, buku itu ditolak berada di toko buku besar setelah terjual selama beberapa pekan. Dan alhamdulillah pak Hasyim, pemilik semua buku itu bersedia membantu menyediakannya dalam jumlah besar dan harga yang khusus.

Saat menghubungi pak Zaini Anhar Maulani, beliau katakan minta dijemput di rumahnya di area Bintaro Sektor IX dan dia katakan bahwa tidak punya mobil…hhmmm, masah sihh pikirku waktu itu…masa untuk seorang jendral bintang 3 yang telah memegang beberapa pos-pos penting tidak memiliki satu mobilpun…tapi tak apalah, kita memang bersedia menjemput beliau di rumahnya…

Dan alhamdulillaah, ta’lim dzuhur kamis 8 April 2004 lalu berlangsung lebih ramai dari biasanya, jamaah dari gedung ini dan dari luar banyak berdatangan, baik dari lingkungan perkantoran maupun jamaah pengajian perumahan. Beliau cerita bahwa karya ilmiah Albert Pastore itu ditemukan saat googling di internet dan disebarkan dalam format pdf, karena belum ada yang berani menerbitkannya dalam bentuk buku (dokumen asli dari karya Albert D Pastore ini masih dapat di-download di situs musholla kami, http://www.albarokah.or.id pada kolom ‘Special Download’). Alhamdulillah ternyata buku Albert D Pastore semakin banyak terjual di bookstore online, seperti Amazon.com dan Barnesandnoble.com setelah diterbitkan menjadi buku Juli lalu.

Dari ceramah beliau ini ada sesuatu yang ternyata kami tidak dapatkan informasinya dari media massa, yaitu saat pengangkatan  mayat-mayat korban bom Bali, mereka yang mengevakuasi mayat menyatakan bahwa mayat-mayat itu saling berdekapan, seakan-akan saat dansa tidak merasakan sesuatu apapun dan saat diangkat seolah-olah mayat itu seperti bandeng presto tanpa tulang, karena saat disentuh, mayat-mayat itu terasa lunak sekali. Dan beliau tambahkan dengan geram, apakah hal ini akibat bom potasium oleh Imam Samudra cs….

Sewaktu kami mengantarkan beliau pulang, banyak hal yang kami tanyakan, terutama karir militernya. Tapi yang membuat kami terkejut saat beliau menjawab pertanyaan, “Sejak kapan bapak tinggal di bintaro sektor 9 ini?”. Beliau hanya  menjawab, “Baru beberapa bulan saja, dulu saya tinggal di depan ini”, sambil menunjuk arah lokasi rumahnya yang dulu. “Oh yah, knapa pindah pak?” tanyaku segera. “Di situ harga kontraknya sudah naik menjadi 35 juta setahun, yang baru ini hanya 10 juta setahunnya dan itu murah karena yang punya merasa rumah itu ada hantunya, tapi selama saya dan istri tinggal di sana belum pernah sekalipun liat hantu”, jawabnya sambil ketawa kecil.

Wuuahh….kaget, terperanjat, gak percaya apa yang diucapkannya, membuat saya, Ridwan Harris (Mobile-8) dan Pak Casta (KGN) mengernyitkan dahi masing-masing. Dan tidak mau berkomentar soal itu lagi hingga pas depan rumahnya, entah karena sungkan atau tidak enak…entahlah…

Semangat membela dan kepedulian beliau terhadap saudara seimannya, Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang terzalimi oleh isu-isu busuk Amerika dan Sekutunya senantiasa diangkat dalam setiap ceramahnya. Dengan alasannya itulah kami mengundang beliau kembali pada menjelang berakhirnya masa penahanan ustadz Abu Bakar Ba’asyir tahun lalu. Kami geram saat mantan Dubes AS Ralph L Boyce menemui pihak Polri dan melobi beberapa tokoh Islam agar ustadz Abu tidak diperkenankan bebas tanpa alasan yang jelas. Akhirnya kami berhasil mengadakan ta’lim dzuhur bersama ZA Maulani di sela-sela jadwal beliau yang padat dua pekan setelah ustadz Abu ditahan kembali.

Beliau mengatakan bahwa akan membawa artikel untuk ceramahnya terkait JI dan China Policy. Karena itulah kami berinisiatif sejak awal membuat judul ta’lim ini “Ada Apa di Balik Kasus Ustadz Abu Bakar Ba’asyir dan Keterkaitkannya dengan Politik Luar Negeri Amerika di Asia Tenggara” pada Selasa 18 Mei 2004 lalu.

Rekan kami, Budiyono (mantan engineer Boleh.net dan admin situs musholla) ahad sorenya sudah menempelkan pamflet pengumuman ta’lim dzuhur di tiap lantai gedung Cyber. Tapi untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, keesokannya kami tambahkan di bawah judul utamanya, yaitu “Kelanjutan Bedah Buku Stranger than Fiction karya Prof. DR. Albert D Pastore PhD”.

Selasa pagi itu beliau menghubungi kami dan minta dijemput di Hotel Menteng tempat dia berseminar. Dalam perjalanan bersama pak Wahyu (KGN) ada berita bahwa salah satu tenant gedung Cyber merasa keberatan dengan judul ta’lim ini. Tapi dengan basmalah kita tetapkan agar acara ini tetap berlangsung. Sewaktu menemui beliau di lobby hotel Menteng, terlihat dia membawa travelbag kecil yang ternyata berisi buku-buku karyanya. Setelah dibuka ternyata yang beliau maksud itu ada dalam bukunya yang berjudul “Jama’ah Islamiyah dan China Policy”.

Sayang kami kurang paham maksudnya,  sehingga judul ta’lim bisa diganti dengan bedah buku barunya. Tapi tak mengapa kata beliau. Judul yang kami buat sudah bagus dan berani imbuhnya.

Alhamdulillaah biidznillaah, ta’lim dzuhur ini berlangsung ramai dan banyak dihadiri pula para pengurus dari Gerakan Muslimat Indonesia, pengajian perkantoran maupun perumahan sekitar kami. Tak disangka sesuatu membuat kami haru dan kagum saat semua menyadari bahwa pada buku itu tertulis diterbitkan pada April 2004. Dan ketika kami konfirmasi, dia mengatakan, “Ini sebenarnya saya persembahkan untuk kebebasan ustadz Abu Bakar Ba’asyir, tapi ternyata akibat rekayasa dan konspirasi busuk maka kebebasan itu tak pernah ada…”

Selepas mengantarkan beliau kembali ke hotel, pak Wahyu ditelpon dan diminta pengurus terkait menghadap Building  Management secepatnya. Hu-uh, ada-ada aja nih….Sesampainya di gedung Cyber, segera diminta BPH (Badan Pengurus Harian) musholla segera berkumpul di Indo.net lantai 8 untuk menyamakan jawaban ke Direksi gedung ini. Dan saat menemui mereka semua berjalan lancar, mereka menanyakan susunan pengurus baru dan bagaimana pemilihannya, lalu saat ditanya bagaimana proses pemilihan judul ta’lim terutama pada siang itu, saya hanya bisa menjawab bahwa sebenarnya ini bedah buku sembari menunjukkan buku JI dan China Policy, tapi untuk mengajak rekan-rekan dari perkantoran lain datang, maka kami ubah judulnya. Dan alhamdulillah mereka bisa terima, “Hanya saja lain kali buatlah ta’lim-ta’lim dengan materi yang menyejukkan, karena banyak tenant di gedung ini yang berasal atau investasi dari Amerika”, kata mereka. “Dan mohon jangan undang lagi ZA Maulani bicara di sini, apalagi beliau ini mantan KABAKIN dan ustadz Abu Bakar Ba’asyir sudah ditahan kembali, jadi jangan buat sesuatu yang keputusannya (penahanan ustadz) sudah jelas”, imbuh mereka. “Baiklah, pak”, janji kami dan memang agak sulit jika kami berbuat di luar kesesuaian mereka, karena musholla ini berada dalam lingkungan gedung.

Saat kami sampaikan hal ini ke ZA Maulani, beliau tertawa dan mengatakan di ujung telpon, “Biarlah saya dicekal di tempat anda, semoga saja apa yang saya sampaikan tidak tercekal juga….”

Dan sejak saat itu, kami pun mengajak rekan-rekan pengurus perkantoran ataupun pengurus masjid lainnya untuk mengadakan bedah buku beliau atau karya penulis lainnya yang terkait, agar kita tidak terkooptasi oleh black propaganda dengan isu murahan berlabel terorisme serta menyadari pretext Amerika sesungguhnya di balik semua pemboman di negeri ini dan belahan dunia lainnya.

Sungguh, suatu kehilangan yang amat sangat dirasakan umat Islam negeri ini, di mana sedikit sekali bahkan hampir tak ada dari kalangan petinggi militer yang dengan gigih berjuang membela agama dan saudara seimannya yang terzalimi saat ini….

Untuk itu dalam rangka mengenang Pejuang dan Pembela Islam ini, kami akan menyiarkan rekaman ceramah Letjend. TNI  (Purn) ZA Maulani tertanggal 8 April 2004 dan 18 Mei 2004 lalu pada kamis – jumat 8-9 April 2005 pukul 16.00 melalui web radio Al Barokah [http://radio.albarokah.or.id/listen.pls]

Masih teringat saat beliau katakan pada akhir ceramah di sini, “Saya ingin meninggal sebagai seorang Muslim, bukan sebagai seorang jendral….”

Ya Allah muliakanlah hamba-Mu ini dan tempatkanlah di tempat yang mulia di sisi-Mu….

[Indra Kusuma, mantan Koordinator Divisi Kajian Musholla Al Barokah periode 2004-2005]

2 Komentar »

  1. Assalamu’alaykum🙂 cekal mencekal itu biasanya pasti terjadi pada orang-orang yang melakukan kebaikan. kalau kejahatan ya WELCOME saja. yah begitulah kalau yang baik pasti jadinya ga indah dipandang, jangankan bicara…pakai jilbab panjang saja sudah pasti kena cekal..ga bisa bekerja pakai jilbab panjang, apalagi pakai cadar ya… yah… cekal cekal dari mana sih asalmu…?

    Komentar oleh ummuhabibah — Januari 19, 2009 @ 4:23 am

    • Katakan yang benar, walau itu menyakitkan…dan kebenaran itu akan berdiri tegak diatas segalanya…
      Subhanallah…

      Komentar oleh Devi — Oktober 29, 2009 @ 12:56 pm


RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: