Pada zaman Nabi Muhammad SAW, ada seorang pemuda bermata biru,
rambutnya merah, pundaknya lapang panjang, berpenampilan cukup tampan,
kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel di dada selalu melihat pada
tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang pada tangan kirinya, ahli
membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya hanya dua helai sudah kusut
yang satu untuk penutup badan dan yang satunya untuk selendangan,
tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal oleh penduduk bumi akan
tetapi sangat terkenal di langit.
Dia, jika bersumpah demi Allah pasti terkabul. Pada hari kiamat nanti
ketika semua ahli ibadah dipanggil disuruh masuk surga, dia justru
dipanggil agar berhenti dahulu dan disuruh memberi syafa’at, ternyata
Allah memberi izin dia untuk memberi syafa’at sejumlah qobilah Robi’ah
dan qobilah Mudhor, semua dimasukkan surga tak ada yang ketinggalan
karenanya. Dia adalah “Uwais al-Qarni”. Ia tak dikenal banyak orang
dan juga miskin, banyak orang suka menertawakan, mengolok-olok, dan
menuduhnya sebagai tukang membujuk, tukang mencuri serta berbagai
macam umpatan dan penghinaan lainnya.
Seorang fuqoha’ negeri Kuffah, karena ingin duduk dengannya,
memberinya hadiah dua helai pakaian, tapi tak berhasil dengan baik,
karena hadiah pakaian tadi diterima lalu dikembalikan lagi olehnya
seraya berkata : “Aku khawatir, nanti sebagian orang menuduh aku, dari
mana kamu dapatkan pakaian itu, kalau tidak dari membujuk pasti dari
mencuri”.
Pemuda dari Yaman ini telah lama menjadi yatim, tak punya sanak famili
kecuali hanya ibunya yang telah tua renta dan lumpuh. Hanya
penglihatan kabur yang masih tersisa. Untuk mencukupi kehidupannya
sehari-hari, Uwais bekerja sebagai penggembala kambing. Upah yang
diterimanya hanya cukup untuk sekedar menopang kesehariannya bersama
Sang ibu, bila ada kelebihan, ia pergunakan untuk membantu tetangganya
yang hidup miskin dan serba kekurangan seperti keadaannya.
Kesibukannya sebagai penggembala domba dan merawat ibunya yang lumpuh
dan buta, tidak mempengaruhi kegigihan ibadahnya, ia tetap melakukan
puasa di siang hari dan bermunajat di malam harinya.
Uwais al-Qarni telah memeluk Islam pada masa negeri Yaman mendengar
seruan Nabi Muhammad SAW. yang telah mengetuk pintu hati mereka untuk
menyembah Allah, Tuhan Yang Maha Esa, yang tak ada sekutu bagi-Nya.
Islam mendidik setiap pemeluknya agar berakhlak luhur.
Peraturan-peraturan yang terdapat di dalamnya sangat menarik hati
Uwais, sehingga setelah seruan Islam datang di negeri Yaman, ia segera
memeluknya, karena selama ini hati Uwais selalu merindukan datangnya
kebenaran. Banyak tetangganya yang telah memeluk Islam, pergi ke
Madinah untuk mendengarkan ajaran Nabi Muhammad SAW secara langsung.
Sekembalinya di Yaman, mereka memperbarui rumah tangga mereka dengan
cara kehidupan Islam.
Alangkah sedihnya hati Uwais setiap melihat tetangganya yang baru
datang dari Madinah. Mereka itu telah “bertamu dan bertemu” dengan
kekasih Allah penghulu para Nabi, sedang ia sendiri belum.
Kecintaannya kepada Rasulullah menumbuhkan kerinduan yang kuat untuk
bertemu dengan sang kekasih, tapi apalah daya ia tak punya bekal yang
cukup untuk ke Madinah, dan yang lebih ia beratkan adalah sang ibu
yang jika ia pergi, tak ada yang merawatnya.
Di ceritakan ketika terjadi perang Uhud Rasulullah SAW mendapat cedera
dan giginya patah karena dilempari batu oleh musuh-musuhnya. Kabar ini
akhirnya terdengar oleh Uwais. Ia segera memukul giginya dengan batu
hingga patah. Hal tersebut dilakukan sebagai bukti kecintaannya kepada
beliau SAW, sekalipun ia belum pernah melihatnya. Hari berganti dan
musim berlalu, dan kerinduan yang tak terbendung membuat hasrat untuk
bertemu tak dapat dipendam lagi. Uwais merenungkan diri dan bertanya
dalam hati, kapankah ia dapat menziarahi Nabinya dan memandang wajah
beliau dari dekat ? Tapi, bukankah ia mempunyai ibu yang sangat
membutuhkan perawatannya dan tak tega ditingalkan sendiri, hatinya
selalu gelisah siang dan malam menahan kerinduan untuk berjumpa.
Akhirnya, pada suatu hari Uwais mendekati ibunya, mengeluarkan isi
hatinya dan memohon izin kepada ibunya agar diperkenankan pergi
menziarahi Nabi SAW di Madinah. Sang ibu, walaupun telah uzur, merasa
terharu ketika mendengar permohonan anaknya. Beliau memaklumi perasaan
Uwais, dan berkata : “Pergilah wahai anakku ! temuilah Nabi di
rumahnya. Dan bila telah berjumpa, segeralah engkau kembali pulang”.
Dengan rasa gembira ia berkemas untuk berangkat dan tak lupa
menyiapkan keperluan ibunya yang akan ditinggalkan serta berpesan
kepada tetangganya agar dapat menemani ibunya selama ia pergi.
Sesudah berpamitan sambil menciumi sang ibu, berangkatlah Uwais menuju
Madinah yang berjarak kurang lebih empat ratus kilometer dari Yaman.
Medan yang begitu ganas dilaluinya, tak peduli penyamun gurun pasir,
bukit yang curam, gurun pasir yang luas yang dapat menyesatkan dan
begitu panas di siang hari, serta begitu dingin di malam hari,
semuanya dilalui demi bertemu dan dapat memandang sepuas-puasnya paras
baginda Nabi SAW yang selama ini dirindukannya. Tibalah Uwais al-Qarni
di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW, diketuknya pintu
rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah sayyidatina ‘Aisyah
r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais menanyakan Nabi
yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak berada di
rumah melainkan berada di medan perang. Betapa kecewa hati sang
perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak berada
di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu kedatangan
Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ? Sedangkan
masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”. Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemauannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan
perasaan haru.
Sepulangnya dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang
kedatangan orang yang mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa
Uwais al-Qarni adalah anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni
langit (sangat terkenal di langit). Mendengar perkataan baginda
Rosulullah SAW, sayyidatina ‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun.
Menurut informasi sayyidatina ‘Aisyah r.a., memang benar ada yang
mencari Nabi SAW dan segera pulang kembali ke Yaman, karena ibunya
sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia tidak dapat meninggalkan
ibunya terlalu lama. Rosulullah SAW bersabda : “Kalau kalian ingin
berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah, ia mempunyai
tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.” Sesudah itu beliau
SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar r.a. dan
bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia, mintalah
do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan penghuni
bumi”.
Tahun terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda
Nabi SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama. Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.
Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah menuju
kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari Yaman,
segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi mereka dan
menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu mengatakan
bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta mereka di
perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas pergi
menemui Uwais al-Qorni. Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman. Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar !
Dia penghuni langit. Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut,
siapakah nama saudara ? “Abdullah”, jawab Uwais. Mendengar jawaban
itu, kedua sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah,
yakni hamba Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?” Uwais
kemudian berkata: “Nama saya Uwais al-Qorni”. Dalam pembicaraan
mereka, diketahuilah bahwa ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah
sebabnya, ia baru dapat turut bersama rombongan kafilah dagang saat
itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan
mendo’akan untuk mereka. Uwais enggan dan dia berkata kepada khalifah:
“Sayalah yang harus meminta do’a kepada kalian”. Mendengar perkataan
Uwais, Khalifah berkata: “Kami datang ke sini untuk mohon do’a dan
istighfar dari anda”. Karena desakan kedua sahabat ini, Uwais al-Qorni
akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a dan membacakan istighfar.
Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk menyumbangkan uang
negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan hidupnya. Segera
saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba mohon supaya
hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari selanjutnya,
biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi”.
Setelah kejadian itu, nama Uwais kembali tenggelam tak terdengar
beritanya. Tapi ada seorang lelaki pernah bertemu dan di tolong oleh
Uwais , waktu itu kami sedang berada di atas kapal menuju tanah Arab
bersama para pedagang, tanpa disangka-sangka angin topan berhembus
dengan kencang. Akibatnya hempasan ombak menghantam kapal kami
sehingga air laut masuk ke dalam kapal dan menyebabkan kapal semakin
berat. Pada saat itu, kami melihat seorang laki-laki yang mengenakan
selimut berbulu di pojok kapal yang kami tumpangi, lalu kami
memanggilnya. Lelaki itu keluar dari kapal dan melakukan sholat di
atas air. Betapa terkejutnya kami melihat kejadian itu. “Wahai
waliyullah,” Tolonglah kami !” tetapi lelaki itu tidak menoleh. Lalu
kami berseru lagi,” Demi Zat yang telah memberimu kekuatan beribadah,
tolonglah kami!”Lelaki itu menoleh kepada kami dan berkata: “Apa yang
terjadi ?” “Tidakkah engkau melihat bahwa kapal dihembus angin dan
dihantam ombak ?”tanya kami. “Dekatkanlah diri kalian pada Allah !
“katanya. “Kami telah melakukannya.” “Keluarlah kalian dari kapal
dengan membaca bismillahirrohmaanirrohiim!” Kami pun keluar dari kapal
satu persatu dan berkumpul di dekat itu. Pada saat itu jumlah kami
lima ratus jiwa lebih. Sungguh ajaib, kami semua tidak tenggelam,
sedangkan perahu kami berikut isinya tenggelam ke dasar laut. Lalu
orang itu berkata pada kami ,”Tak apalah harta kalian menjadi korban
asalkan kalian semua selamat”. “Demi Allah, kami ingin tahu, siapakah
nama Tuan ? “Tanya kami. “Uwais al-Qorni”. Jawabnya dengan singkat.
Kemudian kami berkata lagi kepadanya, “Sesungguhnya harta yang ada di
kapal tersebut adalah milik orang-orang fakir di Madinah yang dikirim
oleh orang Mesir.” “Jika Allah mengembalikan harta kalian. Apakah
kalian akan membagi-bagikannya kepada orang-orang fakir di Madinah?”
tanyanya.”Ya,”jawab kami. Orang itu pun melaksanakan sholat dua rakaat
di atas air, lalu berdo’a. Setelah Uwais al-Qorni mengucap salam,
tiba-tiba kapal itu muncul ke permukaan air, lalu kami menumpanginya
dan meneruskan perjalanan. Setibanya di Madinah, kami membagi-bagikan
seluruh harta kepada orang-orang fakir di Madinah, tidak satupun yang
tertinggal.
Beberapa waktu kemudian, tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah
pulang ke rahmatullah. Anehnya, pada saat dia akan dimandikan
tiba-tiba sudah banyak orang yang berebutan untuk memandikannya. Dan
ketika dibawa ke tempat pembaringan untuk dikafani, di sana sudah ada
orang-orang yang menunggu untuk mengkafaninya. Demikian pula ketika
orang pergi hendak menggali kuburnya. Di sana ternyata sudah ada
orang-orang yang menggali kuburnya hingga selesai. Ketika usungan
dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa banyaknya orang yang berebutan
untuk mengusungnya. Dan Syeikh Abdullah bin Salamah menjelaskan,
“ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga aku pulang dari
mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk kembali ke tempat
penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan tetapi sudah
tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin Salamah adalah
orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni pada masa
pemerintahan sayyidina Umar r.a.)
Meninggalnya Uwais al-Qorni telah menggemparkan masyarakat kota Yaman.
Banyak terjadi hal-hal yang amat mengherankan. Sedemikian banyaknya
orang yang tak dikenal berdatangan untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya, padahal Uwais adalah seorang fakir yang tak dihiraukan
orang. Sejak ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan
ke dalam kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap
melaksanakannya terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.
Mereka saling bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais
al-Qorni ? Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang
tak memiliki apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba
dan unta ? Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan
penduduk Yaman dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah
kami kenal. Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya
mereka adalah para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk
mengurus jenazah dan pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman
mengetahuinya siapa “Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi
tapi terkenal di langit.
Subhanalloh
Cerita yang membuat saya merenungi bahwa pandangan mata sering menipu
Komentar oleh budi — Maret 27, 2007 @ 10:11 am
[...] diambil dari content sebuah blog milik seorang muslimah [...]
Ping balik oleh Dunia Sementara Akherat Selamanya :: Uwais Al Qarni :: April :: 2007 — April 12, 2007 @ 9:36 am
Assalamualaikum… Semoga Rahmat Allah ada bersama anda. Saya mohon maaf dan keihlasannya atas content kisah Uwais Al Qarni di atas yang saya ambil tanpa seijin anda. Saya begitu cinta dengan kisah dan jalan hidup Uwais. Sampai-sampai Rasulullah SAW mewasiatkan kepada Sahabat besar Umar Bin Khatab r.a. dan Ali r.a. agar meminta doa dan istighfar kepada Uwais. Saya mencoba minta ijin melalui YM anda, tapi anda rupanya tidak online. Sekali lagi mohon maaf. Jika anda berkenan saya akan tukarkan dengan satu kisah yang tak kalah menarik, yaitu kisah putra seorang Sultan Harun Ar Rasyid rah.a yang hampir mirip dengan kisah Uwais. Maafkan saya.
Komentar oleh hanafi — April 12, 2007 @ 4:26 pm
tuhan jperlihtkalh kepadaku kebenaran dan kesiluwan mata kami…
Komentar oleh Dika — September 13, 2007 @ 1:34 am
Assalamualaikum Wt. Wb
Kl boleh saya tahu doa apa yang dibacakan Uwais untuk Umar dan Ali pada saat itu, terima kasih
Wassalamualaikum Wt. Wb
Komentar oleh Yusfian — November 8, 2007 @ 1:35 am
yang benar tanda putih itu ditelapak tangannya nya atau bulatan sebesar uang dinar yang bersinar didadanya yang dia berusaha untuk menghilangkannya karena takut menjadi sombong dan mohon kepada Alloh Aza Wa Jala dan dikabulkan hingga wafatnya.
Komentar oleh bryssan — November 16, 2007 @ 2:43 am
subhanaloh saya tertgun dan takjub dgn cerita “Uwais al-Qorni”smoga dapat menjadi contoh yang baik bagi kita semua,terutama diri saya sendiri…amin ya robal alamin
Komentar oleh tz4bit4 — Maret 1, 2008 @ 7:46 am
http://www.bicarasufi.com/bsc/
Komentar oleh liesenden — April 19, 2008 @ 1:12 pm
SUBHANALLAH, ternyata orang termulia dimuka bumi ini adalah orang yg paling berbakti kepada orang tuanya, SUBHANALLAH…..
Komentar oleh abdul — April 22, 2008 @ 6:26 am
saya amat terkesan dengan kisah Uwais al-Qarni ini.Kebetulan saya mengajar pend. Islam SPM untuk tg 5 ada hadis tentang orang berimnan kekasih Allah.Puas sudah saya mencari kisah Uwais al-qarni dan alhamdulillah melalui laman anda saya peroleh satu harta yang cukup bermakna iaitu Kisah Uwais al-Qarni. Syukran Jazilan.
Komentar oleh At-Tirmidzi — Juli 27, 2008 @ 1:26 pm
Kepada kita yang masih mempunyi ibubapa…berbaktilah kepada mereka!
Komentar oleh MAKLB — November 9, 2008 @ 4:11 pm
mudah mudahan beliau senantiasa diberkahi oleh Allah dan selalu bersanding dengan kekasihnya baginda Muhammad SAW….amin amin amin
Komentar oleh irwan — Desember 11, 2008 @ 9:06 am
Assalamu’alaykum
Subhanalloh… untuk mengetahui dengan lebih jelas tentang Uwais Al Qorni, memang pernah dengar sekilas tentang Uwais Al Qorni…hanya tidak sedetail ini. jadi mengingatkan perilaku ana yang masih kurang baik pada orang tua. semoga cerita ini dapat dibaca oleh banyak orang dan dijadikan salah satu panutan kita dalam hidup ini. Insya Alloh
Komentar oleh ummuhabibah — Januari 19, 2009 @ 4:34 am
assalamualaikum…
minta izin nak copy cerita ini…
Komentar oleh nazneen rafiqah — Maret 14, 2009 @ 4:32 am
subhanallah
Komentar oleh andyan — April 6, 2009 @ 8:13 am
Assalamualaikum saudara-saudara saya dalam islam..sesungguh nya jika di lihat dari cerita Uwais al-Qorni ini, terasa diri ni tak layak langsung untuk syurga Allah.. Maka dengan itu, boleh kah saya tahu macam mana jika ingin mendapat syafaat dari Saudara Uwais ini..tlg emel kn ke saya ye..
Syukran
Komentar oleh Izzudeen — Mei 14, 2009 @ 4:33 am
assalamu’alaikum wr wb..
sungguh kisah yang luar bisa..dan memang patut di tiru…
sebagai sesama pecinta sufi..saya ingin sharing dengan teman2..menurut kitab Mawaarid Ruwiyat Al Washiyah karangan Habibullah Abdulloh bin Alwy Al Haadad…beliau itu berkulit sangat hitam, secara fisik sangat tidak menarik, jadi sekali lagi hal ini menjadi ibrah bagi kita..supaya tidak2 membanggakan ketampanan maupun kekayaan duniawi kita yg sama sekali gak punya nilai di akhirat..kecuali hanya ketaqwaan kita yang akan ditanyakan di akhirat kelak…wass
Komentar oleh abdullah — Mei 25, 2009 @ 9:41 am
subhanallah, Allahuakbarr
Komentar oleh Ari Arraniri — Juni 11, 2009 @ 9:44 pm
Ya Alloh perkenankan kami berjumpa denganMU, Rasul & sahabat serta dg Uwais Al Qarni. Amin. Satukanlah hati kami dg hati orang2 yg bertakwa kpdMU. Amin
Komentar oleh Hamba Alloh — Juni 12, 2009 @ 12:54 pm
saya sangat senang nama saya memiliki makna & cerita yang baik
Komentar oleh uwaisyul qoroni — Juni 28, 2009 @ 6:08 am
Assalamu’alikum Wr. Wb
minta ijin untuk meng-copy dan dibagikan kpd hamba Allah yang lain agar dpt dijadikan pembelajaran…Amin
Komentar oleh utami — Agustus 20, 2009 @ 5:08 am
salam..memang sungguh luar biasa kisah uwais al-qarni. sehingga saya menamakan anak lelaki saya seperti nama tersebut. mudah-mudahan Allah memberi rahmat kepada waliyullah, Uwais al-Qarni. mohon izin untuk mengcopy kisah ini. salam
Komentar oleh faisal — Agustus 25, 2009 @ 4:08 am
assalamualaikum kpd saudara2 sy yg brgama islam.sy amat trtarik untk mmbca crita ini.dlam crta ini trdpat bnyk pgjran yg sy prolehi.jgan mnilai org hnya dri luaran,mnlailah dri dlmannya….
Komentar oleh kartika mustafa — Agustus 30, 2009 @ 6:47 am
salam,minta izin tok copy…jazakalllah
Komentar oleh damaiinx — September 2, 2009 @ 3:54 pm
salam…
tq..amat mengharukan…
sy mintak copy artikel ni ek,myb boleh bagi kengkawan..
thenks banyak2…
Komentar oleh annasehah — Oktober 6, 2009 @ 4:33 pm
segala puji bagi Allah sebanyak-banyak bintang dilangit,daun-daun pada pokok kayu butiran pasir dipantai,tasbih-tasbih para malaikat,ana dapat ibrah dari kisah ini jazakallahu khairan kathira
Komentar oleh zaid — Oktober 21, 2009 @ 5:32 pm
Tak pernah saya mendengar cerita seperti ini. Maha suci Allah s.w.t tuhan semesta alam. Minta izin untuk copy. Semoga kisah ini menjadi pengajaran kepada saya.syukran..
Komentar oleh amri — Oktober 25, 2009 @ 8:06 am
tme kasih pda dik yg bru dikenali..blajar di al-azhar,saya trbaca tntg uwais..ALLAH SWT bukekan hati tuk brtnya pe mksud uwais..serius mmg xtaw tu nme org.sgat dikasihi ALLAH SWT dan Nabi Muhammad saw.trus bke website,terjmpa ni tntg perjuangan Uwais.izinkan sya copy tuk bacaan sya dan insya allah tuk tontonan umum d blog sya..
Komentar oleh nur syuhadah — Oktober 29, 2009 @ 12:13 am
subhanallah..
demi allah ini adalah nama pemberian ibu bapa saya kepada saya..
alhamdulillah
setelah membaca kisah ini
barulah saya faham..
siapakah uwais al – qarni yg sebenarnya
jauh sekali dengan sifat dalam diri saya./
subhanallah..
semoga allah mencucuri rahmat ke atas rohnya
alfatihah.
Komentar oleh uwais al qarni — November 10, 2009 @ 2:06 am